Cecep Mulya Berliana, S.Pd.
(Sedang menempuh studi S2)

Saya lahir di Bandung, pada 16 November 1978. Saat ini saya hidup bersama istri tercinta, Ati Suryati, dan dikaruniai empat anak: Abdullah Fauzan, Aisyah, Fawwaz, dan Salma — yang menjadi sumber semangat dan penguat langkah dalam meniti jalan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.

Saya menjabat sebagai Kepala Divisi Tahfidz Sabilunnajah, dengan minat utama pada pelatihan santri agar menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan istiqamah, serta mendalami bidang Ilmu Tajwid, Ilmu Tafsir, Menulis, dan Manajemen Pendidikan.

Melalui website RuangHijaiyyah.com, saya berkomitmen menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang benar sejak huruf pertama melalui metode Yatlunah — sebuah pendekatan yang mengembalikan pengajaran Al-Qur’an kepada kaidah aslinya sebagaimana diwariskan para ulama.
Metode ini menekankan penguasaan makhraj dan sifat huruf sebelum memasuki hukum-hukum bacaan, agar setiap santri membaca Al-Qur’an dengan tartil, penuh penghayatan, dan berlandaskan ilmu.

Saya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada:

  • Ustadz Beni Sarbeni, Lc., M.Pd., selaku Mudir Pesantren Sabilunnajah, atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan untuk mengelola program Tahfidz santri.

  • Ustadz Hafidz Abdurrahman, Lc., yang telah memberikan amanah untuk mengajar ilmu tajwid, tidak hanya bagi santri MTs dan MA, tetapi juga bagi mahasiswa LPBA. Dari permintaan beliaulah kemudian lahir Buku Yatlunah — sebuah karya yang sebelumnya sama sekali tidak terbayang akan saya tulis, namun kini menjadi panduan bagi para pemula, baik anak-anak maupun dewasa, dalam belajar membaca Al-Qur’an dari dasar.

Saya juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada guru-guru yang telah membimbing dalam ilmu tajwid dan tashih bacaan:

  • Ustadz Rendi Rustandi,

  • Syaikh Dr. Abdulkarim Silmy Al Jazairi,

  • Syaikh Abdurrazzaq Al Limbarqi Al Jazairi,
    atas bimbingan dan tashih bacaan serta hafalan Al-Qur’an.

Demikian pula kepada Syaikh Dr. Muhammad Rafiq dan Syaikh Sulaiman Habibullah, para Mu’allim Masjid Nabawi, yang hingga kini masih berkenan membimbing saya dalam penyelesaian hafalan Al-Qur’an secara online.

Segala ilmu, bimbingan, dan kepercayaan yang telah diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya di dunia pendidikan Al-Qur’an.
Semoga setiap huruf yang diajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan semoga Allah menjadikan langkah ini bagian dari firman-Nya:

﴿وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)